Senin, 04 Oktober 2010

Diabetes Melitus

Di Mesir, tahun 1552 sebelum Masehi telah dikenal adanya suatu penyakit dengan gejala: sering kencing dan dalam jumlah yang banyak yang disebut poliuria serta penurunan berat badan yang cepat tanpa disertai rasa nyeri. Kemudian pada tahun 400 sebelum Masehi, penulis India Sushrutha memberi nama penyakit itu penyakit kencing madu (honey urine disease).
Aretaeus, pada tahun 200 sebelum Masehi merupakan orang yang pertama kali member nama diabetes yang berarti “mengalir terus” dan mellitus yang berarti “manis”. Disebut diabetes karena selalu minum dalam jumlah yang banyak (polidipsia) yang kemudian mengalir terus berupa urine yang banyak (poliuria). Disebut mellitus karena urine penderita ini mengandung glukosa (glukosa/manis).
Pada dasarnya, diabetes mellitus disebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak mencukupi atau tidak efektif sehingga tidak dapat bekerja secara normal. Padahal, insulin mempunyai peran utama mengatur kadar glukosa darah, yaitu (pada orang normal) sekitar 60-120 mg/dL waktu puasa, dan dibawah 140 mg/dL pada dua jam sesudah makan.
Sejak ditemukan insulin pada tahun 1921 oleh Banting dan Best di Kanada, angka kematian dan keguguran ibu-ibu diabetes yang hamil semakin berkurang. Akhirnya, pada tahun 1954, Frank dan Fuchs mencoba tablet OHO (Obat Hipoglikemik Oral) pada manusia, yang kemudian temuan OHO ini berkembang pesat dengan berbagai jenis dan indikasi penggunaannya.
Diabetes Mellitus, penyakit gula atau kencing manis adalah suatu gangguan kronis yang khususnya menyangkut metabolisme hidratarang (glukosa) di dalam tubuh. Tetapi metabolisme lemak dan protein juga terganggu. Penyebabnya adalah kekurangan hormon insulin, yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mensintesa lemak. Akibatnya ialah glukosa bertumbuk di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan (glycosuria). Karena itu produksi kemih sangat meningkat dan pasien harus sering kencing, merasa amat haus, berat badan menurun dan berasa lelah.

Insulin
Insulin merupakan salah satu hormon di dalam tubuh manusia yang dihasilkan oleh sel β pulau Langerhans yang berada di dalam kelenjar pankreas. Kelenjar pankreas ini terletak di dalam rongga perut bagian atas, tepatnya di belakang lambung. Insulin merupakan suatu polipeptida, sehingga dapat juga disebut protein. Dalam keadaan normal bila kadar glukosa darah naik, maka insulin akan dikeluarkan dari kelenjar pankreas dan masuk ke dalam aliran darah. Dalam aliran darah, insulin akan menuju ke tempat kerjanya (reseptor), yaitu 50% ke hati, 10-20% ke ginjal, dan 30-40 % bekerja pada sel darah, otot dan jaringan lemak. Adanya insulinlah yang memungkinkan kadar glukosa darah akan kembali normal.
Glukosa yang kita kenal sebagai gula darah merupakan bahan bakar utama yang akan diubah menjadi energi atau tenaga. Kadar glukosa darah yang tinggi setelah makan akan merangsang sel β pulau Langerhans untuk mengeluarkan insulin. Selama belum ada insulin, glukosa yang ada di peredaran darah ini tidak dapat masuk ke dalam sel-sel jaringan tubuh seperti otot dan jaringan lemak. Ibarat sebuah kunci, insulin berguna untuk membuka pintu sel jaringan, memasukkan glukosa ke dalam sel dan selanjutnya menutup pintu sel kembali. Di dalam sel jaringan, glukosa ini dibakar (dimetabolisir) menjadi energi atau tenaga.
Apabila tubuh kekurangan insulin atau terjadi penurunan efektivitas insulin seperti yang kerap terjadi pada orang gemuk, maka sebagian glukosa darah tidak dapat masuk ke dalam jaringan tubuh. Akibatnya glukosa darah tetap tinggi. Keadaan ini dinamakan hiperglikemia. Gula darah atau glukosa yang berlebihan ini sebagian akan dikeluarkan bersama kencing (urine), sehingga dalam air kencing penderita terdapat glukosa, yang istilahnya glukosuria.
Pada pasien diabetes tipe 1, sel β pulau Langerhans yang memproduksi insulin sebagian besar “rusak”. Pada pasien diabetes tipe 2, hanya sebagian sel yang “rusak”.
Kegemukan dapat menyebabkan insulin yang beredar di dalam darah menjadi tidak efektif. Insulin yang ada tidak dapat lagi menghantar seluruh glukosa darah masuk ke dalam sel. Mungkin sebagian lubang kunci pada sel jaringan berubah, sehingga tidak cocok lagi dengan kunci insulin. Keadaan ini disebut resistensi insulin. Adanya resistensi insulin menyebabkan kelenjar pankreas terpacu untuk menghasilkan lebih banyak lagi insulin, dengan maksud menurunkan kadar glukosa darah. Akibatnya kadar insulin di dalam darah berlebihan. Keadaan ini disebut hiperinsulinemia dan ini berbahaya. Keadaan hiperinsulinemia akan menimbulkan penyakit diabetes mellitus, gangguan kadar lemak darah (dislipidemia) atau tekanan darah tinggi, tergantung pada gen yang dimiliki penderita. Semua penyakit yang timbul ini akhirnya akan merusak lapisan dalam pembuluh darah dengan berbagai akibatnya.
Hati merupakan organ utama yang menstabilkan keseimbangan glukosa (homeostasis) antara absorpsi dan penimbunannya sebagai glikogen. Glikogen ini sesudah makan dilepaskan ke dalam sirkulasi untuk menyesuaikan kecepatan pembakaran glukosa oleh jaringan perifer. Hati juga dapat mensintesa glukosa dan molekul-molekul beratom 3C yang berasal dari perombakan lemak dan protein. Ini dikenal sebagai proses glukoneogenesis (Lat. Neo = baru, genesis = terbentuk, jadi, tumbuh).
Metabolisme glukosa. Setelah karbohidrat dari makanan dirombak dalam usus, glukosa lalu diserap ke dalam darah dan diangkut ke sel-sel tubuh. Untuk penyerapannya ke dalam sel-sel tubuh diperlukan insulin, yang dapat dianggap sebagai “kunci untuk pintu sel”. Sesudah masuk kedalam sel, glukosa lantas diubah menjadi energi atau ditimbun sebagai cadangan. Cadangan ini digunakan bila tubuh kekurangan energi, misalnya pada saat puasa beberapa waktu.
Setiap kali kita makan hidratarang (gula), maka kadar glukosa darah akan naik. Sebagai reaksi, pankreas memproduksi dan melepaskan insulin guna memungkinkan absorpsi glukosa oleh sel, sehingga kadar glukosa turun lagi dan pankreas menurunkan produksi insulinnya.
Penggunaan glukosa. Yang paling banyak menggunakan glukosa adalah saraf dan otak. Di dalam sel glukosa dioksidasi menjadi karbondioksida dan air, dengan menghasilkan energi. Glukosa yang diserap di otot ditimbun sebagai glikogen atau dirombak menjadi asam laktat, yang dengan darah diangkut ke hati dan menjadi bahan pangkal untuk gluconeogenesis.
Regulasi hormonal. Bila kadar insulin rendah, produksi glukosa adalah maksimal dan utilisasinya minimal. Pada kadar insulin tinggi terjadi kebalikannya. Molekul insulin mengikat diri pada reseptor insulin di membran sel dari sel tujuan (otot dan lemak). Pada reaksi ini terbentuklah suatu kompleks, yang melalui impuls listrik melancarkan pelintasan membran sel dan pemasukkan glukosa ke dalam sel. Kompleks ini diinkoporasi di dalam sel, lalu insulin dirombak, reseptor dikembalikan ke membran dan dapat diduduki lagi oleh molekul insulin baru, dan seterusnya.
Resistensi insulin adalah peristiwa dimana pemasukkan insulin ke dalam sel menurun pada penderita diabetes tipe II. Penyebabnya adalah berkurangnya jumlah reseptor yang harus mengikat insulin atau tidak bekerja (lagi) semestinya atau karena adanya gangguan pada sistem transport insulin di dalam sel ke tempat pembakaran.
Khasiat fisiologi. Insulin memiliki beberapa efek atas metabolisme ketiga bahan utama dari pangan, yakni hidrat arang, lemak dan protein. Ketiganya dapat mensuplai energi, tetapi karbohidrat adalah yang terpenting karena glukosa dapat menghasilkan energi dengan cepat.
1. Efek karbohidrat
Tugas utama insulin adalah mengatur utilisasi glukosa oleh sebagai sumber energi, antara lain dengan melancarkan pelintasannya melalui membran sel dan resorbsinya ke dalam sel-sel otot dan lemak. Selain itu insulin bekerja hipoglikemis, yakni menurunkan gula darah dengan jalan menstimulasi pengubahan kelebihan glukosa menjadi glikogen di hati dan otot. Lagipula insulin menghambat gluconeogenesis, yakni produksi glukosa dalam hati dengan jalan merintangi pelarutan glikogen.
2. Efek lemak
Yang terdiri dari stimulasi lipogenesis yang menghambat lipolysis, yakni menstimulasi sintesa lemak dari glukosa dan masuknya ke dalam sel serta merintangi penguraiannya.
3. Efek protein
Efek protein (efek anabol) menstimulasi sintesa protein dari glukosa.
4. Stimulasi faktor pertumbuhan
Stimulasi faktor pertumbuhan dari dinding arteri, yang pada keadaan hiperinsulinemia frekuwen akan menebal sehingga mengakibatkan hipertensi.

Tipe Diabetes Mellitus
Penyakit diabetes mellitus dapat dibedakan menjadi dua, yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2:
1. DM tipe 1, yaitu adanya gangguan produksi insulin akibat penyakit autoimun atau idiopatik. Tipe ini sering disebut insulin dependent diabetes mellitus atau IDDM, karena pasien mutlak membutuhkan insulin. Pada tipe ini terdapat destruksi dari sel beta pankreas, sehingga tidak memproduksi insulin lagi dengan akibat sel-sel tidak bisa menyerap glukosa darah, karena itu kadar glukosa darah meningkat diatas 10 mmol/1, yakni nilai ambang ginjal, sehingga glukosa berlebihan dikeluarkan lewat urin bersama banyak air (glycosuria). Di bawah kadar tersebut, glukosa ditahan oleh tubuli ginjal. Penyebabnya belum begitu jelas, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa jenis ini disebabkan oleh suatu infeksi virus yang menimbulkan reaksi autoimun berlebihan untuk menanggulangi virus. Akibatnya sel-sel pertahanan tubuh tidak hanya membasmi virus, melainkan juga turut merusak dan memusnahkan sel-sel Langerhans. Penderita tipe 1 memperlihatkan antibodies sel beta dalam darahnya. Pada tipe ini faktor keturunan juga memegang peranan. Prevensi dan terapi. Pengobatan satu-satunya terhadap tipe 1 adalah pemberian insulin seumur hidup.
2. DM tipe 2, yaitu akibat resistensi insulin atau gangguan sekresi insulin. Pada tipe 2 ini tidak selalu dibutuhkan insulin, kadang-kadang cukup dengan diet dan antidiabetik oral. Tipe ini disebut noninsulin dependent diabetes mellitus atau NIDDM. Tipe 2 ini mulainya sangat berangsur-angsur dengan keluhan ringan yang sering kali tidak dikenali. Tipe 2 ini dalam kebanyakan hal baru menjadi menifes dengan tampilnya gejala stadium lanjut. Bahkan, bila terjadi komplikasi, misalnya infark jantung atau gangguan penglihatan. Penyebabnya, akibat proses menua pasien jenis ini mengalami penyusutan sel-sel beta yang progresif serta penumpukan amiloid sekitar sel-sel beta. Sel beta yang tersisa pada umumnya masih aktif, tetapi sekresi insulinnya semakin berkurang, kepekaan reseptornya menurun. Hipofungsi sel-sel beta ini bersama resistensi insulin yang meningkat mengakibatkan gula darah meningkat.

Gejala Diabetes Mellitus
Penyakit diabetes mellitus ditandai gejala 3 P, yaitu poliuria (banyak berkemih), polidipsia (banyak minum), dan polifagia (banyak makan), yang dapat dijelaskan sebgai berikut :
Disamping naiknya kadar gula darah, gejala kencing manis bercirikan adanya “gula” dalam kemih (glycosuria) dan banyak berkemih karena glukosa yang diekskresikan mengkiat banyak air.
Akibatnya timbul rasa sangat haus, kehilangan energi dan turunnya berat badan serta rasa letih. Tubuh mulai membakar lemak untuk memenuhi kebutuhan energinya, yang disertai pembentukan zat-zat perombak, antara lain aseton, asam hidroksibutirat dan diasetat, yang membuat darah menjadi asam. Keadaan ini yang disebut ketoacidosis, amat berbahaya karena akhirnya dapat menyebabkan pingsan. Nafas penderita yang sudah menjadi sangat kurus sering kali berbau aseton.
Glukagon. Hormon ini dapat dianggap sebagai antagonis dari insulin berhubung berdaya meningkatkan gula darah. Bila kadar glukosa rendah, sel-sel alfa melepaskan glukagon dan menstimulasi pengubahan glikogen, sehingga kadar gula dinormalkan kembali. Glukagon berdaya inotrop positif, yakni memperkuat kontraksi otot jantung dan menstimulasi penerusan impulsnya.

Terapi diabetes
Tindakan umum
a. Diet
Pokok pangkal penanganan diabetes mellitus adalah makan dengan bijaksana. Semua pasien harus memulai diet dengan pembatasan kalori, terlebih pada pada pasien dengan overweight (tipe II). Makanan perlu dipilih secara seksama, terutama pembatasan lemak total dan lemak jenuh untuk mencapai normalisasi kadar glukosa dan lipida darah.
b. Gerak Badan
Bila terdapat resistensi insulin, gerak badan secara teratur (jalan kaki atau bersepeda, olahraga) dapat menguranginya. Hasilnya insulin dapat dipergunakan secara lebih baik oleh sel tubuh dan dosisnya pada umumnya dapat diturunkan.
c. Berhenti merokok karena nikotin dapat mempengaruhi secara buruk penyerapan glukosa oleh sel.

Antidiabetika oral
Pada tahun 1954 karbutamida diperkenalkan sebagai obat diabetes oral pertama dari kelompok sulfonuliurea yang struktur dan efek sampingnya mirip sulfonamide. Beberapa tahun kemudian disintesa derivatnya, yaitu tolbutamida dan klorpropamida, tanpa efek sulfa, yang selanjutnya disusul oleh banyak turunan lain dengan daya kerja lebih kuat.
Sementara itu sekitar tahun 1959 ditemukan senyawa lain dengan daya antidiabetes, yakni kelompok biguanida (metformin). Akhirnya pada tahun 1990 dipasarkan kelompok penghambat enzim (akarbose, miglitol) yang cara kerjanya sangat berlainan dengan kedua jenis lainnya.